Notification

×

Iklan

Iklan

Semangat Inovasi dan Perubahan, Widyaiswara Bapelkum Dorong Peningkatan Kinerja Pemeriksa Merek

Kamis, 18 Juni 2026 | 23:41 WIB Last Updated 2026-06-18T16:41:24Z

DR. Muh Khamdan saat penyampaian materi Manajemen Perubahan pada Pelatihan Teknis Dasar Pemeriksaan Merek, Rabu (17/6/2026).


Semarang, soearamoeria.com - Semangat inovasi dan perubahan menjadi pesan utama yang disampaikan Widyaiswara Ahli Utama Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang, Dr. Muh Khamdan, dalam penyampaian materi Manajemen Perubahan pada Pelatihan Teknis Dasar Pemeriksaan Merek, Rabu (17/6/2026). 


Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual tersebut diikuti oleh 40 peserta yang berasal dari berbagai kantor wilayah dan unit kerja di lingkungan Kementerian Hukum.


Peserta pelatihan berasal dari 10 provinsi yang meliputi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. 


Keberagaman asal peserta mencerminkan luasnya cakupan pelayanan pemeriksaan merek yang membutuhkan standar kompetensi dan kualitas kinerja yang sama di seluruh Indonesia.


Sejak awal pembelajaran, suasana kelas virtual berlangsung interaktif dan dinamis. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi pembelajaran karena materi yang diberikan berkaitan langsung dengan tantangan yang mereka hadapi dalam menjalankan tugas pemeriksaan merek serta peningkatan kualitas layanan publik di bidang kekayaan intelektual.


Dalam paparannya, Muh Khamdan menegaskan bahwa inovasi tidak dapat lahir tanpa adanya kemampuan untuk memahami dan menganalisis permasalahan yang dihadapi organisasi. 


Oleh karena itu, langkah pertama dalam manajemen perubahan adalah mengenali isu dan masalah kinerja yang terjadi baik pada level individu maupun organisasi.


Menurutnya, berbagai permasalahan organisasi sering kali hanya terlihat pada gejala yang muncul di permukaan. Padahal, untuk menghasilkan solusi yang efektif, aparatur perlu memiliki kemampuan menemukan akar penyebab masalah melalui pendekatan yang sistematis dan berbasis data. 


Dengan demikian, inovasi yang dirancang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi mampu menjawab kebutuhan organisasi secara berkelanjutan.


Muh Khamdan menjelaskan bahwa analisis masalah dapat dilakukan melalui berbagai metode dan alat bantu yang telah banyak digunakan dalam pengembangan organisasi, seperti analisis prioritas masalah dan pemetaan akar penyebab. 


Melalui pendekatan tersebut, peserta dapat menentukan permasalahan yang paling mendesak untuk diselesaikan sekaligus merumuskan strategi perubahan yang tepat sasaran.


Setelah memahami akar masalah, peserta diajak untuk mengembangkan ide dan gagasan inovatif yang dapat meningkatkan kinerja individu maupun organisasi. 


Inovasi, menurutnya, bukan sekadar menciptakan sesuatu yang baru, melainkan menghasilkan perbaikan yang memberikan nilai tambah terhadap proses kerja, kualitas layanan, dan pencapaian tujuan organisasi.


Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberhasilan inovasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas ide, tetapi juga oleh kemampuan menyusun strategi implementasi yang realistis dan terukur. 


Oleh karena itu, setiap inovasi perlu diterjemahkan ke dalam rencana aksi yang jelas, lengkap dengan target, indikator keberhasilan, jadwal pelaksanaan, serta pihak-pihak yang terlibat.


Dalam sesi diskusi, peserta diberikan kesempatan untuk mengidentifikasi berbagai tantangan yang berpotensi muncul selama implementasi perubahan. 


Berbagai pengalaman lapangan yang disampaikan peserta menjadi bahan pembelajaran bersama dalam merumuskan strategi mitigasi risiko dan pengelolaan pemangku kepentingan.


Muh Khamdan juga mengingatkan bahwa proses perubahan memerlukan komitmen, konsistensi, dan evaluasi yang berkelanjutan. 


Monitoring dan evaluasi menjadi instrumen penting untuk memastikan bahwa setiap rencana aksi yang disusun benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan kinerja individu maupun organisasi. 


Melalui evaluasi yang tepat, organisasi dapat melakukan perbaikan dan penyesuaian secara cepat terhadap berbagai tantangan yang muncul.


Melalui materi Manajemen Perubahan ini, peserta diharapkan mampu menyusun rencana aksi yang aplikatif dan berdampak nyata bagi peningkatan kualitas pemeriksaan merek di lingkungan Kementerian Hukum. 


Semangat inovasi yang dibangun selama pelatihan diharapkan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menjadi budaya kerja yang mendorong lahirnya organisasi yang adaptif, profesional, dan berorientasi pada pelayanan publik yang semakin berkualitas. (ah)

close close