Notification

×

Iklan

Iklan

Mbak Hindun yang Saya Kenal

Minggu, 03 Mei 2026 | 21:55 WIB Last Updated 2026-05-03T14:55:40Z
Hj. Hindun Anisah saat diwawancarai awak media. 


Oleh: Zakariya Anshori, Pembina Yayasan Difabel Jepara Tataning Bumi (Komunitas Motor Difabel Jepara, KMDJ)


Tulisan berikut merupakan catatan pribadi penulis dalam mengenal sosok Dr. Hj. Hindun Anisah, MA selama lebih dari 20 (dua puluh) tahun. 


Penulis lebih ingin menceritakan pengalaman yang sangat personal yang sangat mempengaruhi hubungan kami sekeluarga dengan keluarga Mas Nung (KH. Nuruddin Amin, S.Ag., MM) dan Mbak Hindun, daripada pengalaman dalam pergaulan politik maupun hubungan dalam gerakan masyarakat sipil pada dekade akhir 90-an sampai awal 2000-an. Baik dalam gerakan penolakan PLTN Muria, pengarus-utamaan gender maupun pembelaan terhadap kaum minoritas, petani, buruh, nelayan maupun minoritas agama.


Baik Mas Nung maupun Mbak Hindun, dan sekarang putra sulungnya Kak Afa (Muhammad Arief Arafat, Lc., MA) lebih sering memanggil penulis dengan sebutan “Lek Yankz”. Sangat boleh jadi hal ini menunjukkan kedekatan emosional-kultural-personal yang kadang sulit dicerna oleh logika empiris, apalagi bila hanya menggunakan pendekatan politik pragmatis semata. 


Lebih-lebih jika sudah terkait dengan “Umik” (Nyai Hj. Aizah Amin Sholeh), relasinya akan lebih rumit dan sulit dijelaskan dengan logika empirik. Saat Ayahanda penulis (H. Chamim) berpulang ke rahmatullah di tahun 2010, Umik dan Mbak Hindun datang melayat ke rumah Saripan sekitar tiga atau empat hari setelah pemakaman.


Penulis sempat didukani (Jawa: ditegur) Umik. “Mas Yankz iki kebangeten, Bapake gerah kok ora crita-crita karo Umik. Padahal Mas Yankz kerep dolan omahe Mas Nung”. Penulis hanya bisa diam dan menyesal mendengar cerita Umik saat itu. Tak terasa air mata meleleh menyaksikan betapa hubungan ‘kekerabatan’ yang spesial ini tak pernah diceritakan oleh kedua orang tua penulis. 


Menurut Umik, “Bapak” Allahu Yarhamhu H. Chamim, “Ibuk” Allahu Yarhamha Hj. Shofijah dan “Bulek” Allahu Yarhamha Hj. Mumayizah merupakan teman seperjuangan beliau, sama-sama sebagai guru-pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Departemen Agama (sekarang Kemenag) yang ditugaskan mengajar di madrasah swasta milik Nahdlatul Ulama (NU).

 

Penulis ingat betul pesan Umik saat itu agar melanjutkan perjuangan “Bapak” dan “Ibuk” untuk tetap khidmah di lingkungan NU. Pesan yang sangat membekas di kala penulis  kehilangan sosok panutan, orang tua, guru dan teladan hidup penulis. 


“Bapak” yang sepanjang hidupnya tak pernah sekalipun marah kepada anak-anaknya. “Bapak” yang selalu mengajak istri dan anak-anaknya salat subuh berjamaah.


Agaknya relasi yang sangat personal antara Umik, Bapak, Ibuk dan Bulek inilah yang mempengaruhi hubungan penulis dengan keluarga Mas Nung dan Mbak Hindun.


Rabu Pon, 15 Februari 2006, saat anak perempuan pertama lahir, penulis kabarkan berita gembira ini kepada orang terdekat penulis. 


Pertama, kepada Allahu Yarhamhu Bapak Mufid Ahmad Busyairi sebagai anggota Komisi IV FPKB DPR RI, sosok yang menjadi mentor penulis dalam ideologisasi, kaderisasi dan gerakan masyarakat sipil. Pemberitahuan ini sekaligus izin untuk tidak balik ke Jakarta selama seminggu untuk beberja sebagai asisten pribadi Anggota DPR RI. 


Kedua, kepada Mas Nung yang saat itu menjadi Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara. Niatnya hanya mengabarkan sambil meminta doa untuk jabang bayi yang baru lahir. Kabar tersebut direspon dengan kejutan. Tiba-tiba Mas Nung dan Mbak Hindun datang ke rumah Tegalsambi sekitar pukul 05.30 WIB langsung dari Jogjakarta. Sementara bayi dan ibunya masih di Bidan Desa Tegalsambi.


Ibu Mertua penulis Allahu Yarhamha Ibu Karmi tampak kebingungan mendapatkan tamu di pagi-pagi buta tanpa ada persiapan apapun. “Niki pripun, Mas. Pak Kiai kalih Bu Nyai dipun suguhi punapa, Mas?”, Tanya Ibu Karmi. “Sak wontene kemawon”, Jawab penulis untuk sedikit menenangkan kegelisahan beliau. 


Sambil menunggu jabang bayi dan ibunya diantar Bidan Desa Tegalsambi ke rumah, kami bertiga pun berbincang santai.


“Lek, sampeyan wis nyiapke jeneng kanggo anakmu wedok, tah hurung?” tanya Mbak Hindun. 


“Sampun, Mbak! Menawi jaler, huruf pertama kula nisbatke kalih awal huruf hijaiyyah nami ibuk’e ngagem huruf hamzah lan mengandung kata kafa, menawi estri kula nisbatke ning awal huruf hijaiyyah nami kula ngagem huruf zay lan wonten kata Zada atau Ziyada,” jawab penulis sambil menyodorkan nama Ektafa Bilhadiy Muhammad jika laki-laki dan Zada Zahida Zakiya kalau berjenis kelamin perempuan.


“Terus terang ya, Lek. Aku karo Mas Nung isuk-isuk mrene langsung seko Jogja ora ning Bangsri dhisik iki pengin duwe anak wedok. Anakku wis telu, lanang kabeh. Jare wong tuwo-tuwo, yen aku pengin duwe anak wedok, aku kon menehi jeneng anak wedok sing tak karepno ning wong liyo dhisik. Aku angen-angen yen duwe anak wedok tak jenengke Tsabita Gelba, Lek’, kata Mbak Hindun.


“Nek Tsabita, Bahasa Arab kula ngertos artine, lha Gelba niki artine punapa?’ tanya penulis.


“Gelba iki yo Bahasa Arab logat Mesir, Lek. Seko kata Qalbah. Harapane kira-kira anak perempuan yang memiliki hati yang teguh. Mengko celukane Beta, ya Lek," terang Mbak Hindun.


“Menawi digabung pripun? Zada Tsabita Gelba, kula lan estri nggih sampun nyiapke asma, ditambah harapan lan doa saking jenengan”, pinta penulis.


Begitulah, ketika jabang bayi dan ibunya pulang ke rumah diantar Bidan Desa Tegalsambi, penulis ceritakan semua kepada istri penulis. Diapun setuju dengan nama pemberian Mbak Hindun yang juga dosennya saat kuliah di Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah INISNU Jepara, di kampus MTs Matholiul Huda Bugel Kedung Jepara.


Alhamdulillah, anak perempuan pertama penulis memperoleh nama dari Mbak Hindun dan langsung didoakan saat itu juga. Zada Tsabita Gelba, telah bertambah perempuan yang teguh hatinya.


“Urapane sedep, Lek. Tak nambah tanpa nasi, ya?”, kata Mbak Hindun sambil menikmati sarapan sayur urap buatan Ibu Karmi.


Tiga tahun kemudian di tahun 2009, anak keempat Mas Nung dan Mbak Hindun lahir dan berjenis kelamin perempuan (Zhareva Bilqis Faqeeha, Reva) lalu disusul di tahun 2010, anak kelima juga perempuan (Medina Alea Syareeva, Alea).


Mungkin hal ini kebetulan saja, namun pemberian nama Beta oleh Mbak Hindun merupakan hadiah dan anugerah terindah bagi keluarga kami. Sekarang Beta telah kuliah di Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta sambil mondok di “Omah Ngaji Al-Anshori”, Ngemplak, Mojosongo, Jebres, Surakarta. 


Selamat Ulang Tahun, Mbak. Terima kasih telah menjadi inspirasi dan teladan bagi kedua anak perempuan kami; Zada Tsabita Gelba dan Zeyada Shaviyatez Zackia. (*)

close close