Notification

×

Iklan

Iklan

Hampir Punah, Tari Koncong Dayak Diangkat Jadi Game Edukatif

Sabtu, 04 April 2026 | 14:15 WIB Last Updated 2026-04-04T07:15:12Z

Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Pemetaan Kebutuhan Budaya, Analisis Masalah, dan Content Mapping untuk Pengembangan Edugame Gariskoyak" pada Sabtu (4/5/2026) di Singkawang. 


‎Singkawang, soearamoeria.com - Di tengah gempuran teknologi digital, pelestarian budaya lokal kini menemukan jalan baru melalui media interaktif di sekolah. 


Merespon hal itu, tiga peneliti yaitu Dr. Herwulan Irine Purnama, M.Pd (Kepala SDN 35 Pontianak Selatan), Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd (Rektor Inisnu Temanggung), Dr. Rois Saifuddin Zuhri, M.Pd (guru SD Muhammadiyah Condongcatur, Yogyakarta) mengembangkan sebuah game bernama Game Edukatif Tari Bermuatan Seni Koncong Dayak (GARISKOYAK). 


‎Pengembangan game itu mendapat bantuan dari Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui penciptaan karya kreatif inovatif bertajuk "Gariskoyak: Inovasi Game Edukatif Tari Bermuatan Seni Koncong Dayak sebagai Media Pelestarian Budaya Lokal."

Selaku Ketua Tim Peneliti, Dr. Herwulan secara resmi memperkenalkan pengembangan edugame bernama "Gariskoyak". Permainan edukasi ini dirancang khusus untuk mengangkat dan melestarikan seni Tari Koncong Dayak Salako agar tetap relevan di mata generasi muda.

Kegiatan ini diawali dengan pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Pemetaan Kebutuhan Budaya, Analisis Masalah, dan Content Mapping untuk Pengembangan Edugame Gariskoyak" pada Sabtu (4/5/2026) di Singkawang. 


Dalam sambutannya, Dr. Herwulan menekankan bahwa proyek yang didanai oleh hibah Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2026 ini bukan sekadar memindahkan tarian ke dalam layar, melainkan sebuah upaya penggalian nilai-nilai filosofis yang mendalam.


"Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata," kata Dr. Herwulan, mengawali sambutannya dengan semboyan khas Dayak yang menekankan keadilan, cerminan surga, dan nafas kehidupan dari Tuhan.

"Tujuan kami adalah menggali nilai-nilai filosofis, historis, serta elemen penting dalam Tari Koncong Dayak Salako yang harus dipertahankan dalam proses digitalisasi ke dalam game edukasi," ujar Dr. Herwulan dalam pembukaan FGD tersebut.

Ia menegaskan pentingnya menentukan "batasan budaya", hal-hal yang tidak boleh disederhanakan dalam game agar keaslian dan nilai kearifan lokal Dayak Salako tetap terjaga meskipun berada dalam format teknologi modern.

Pengembangan edugame Gariskoyak dilakukan secara sistematis melalui tujuh langkah strategis, yang dimulai dari identifikasi tantangan di sekolah dasar hingga pemetaan konten (content mapping). 

Tim peneliti memfokuskan pengembangan pada empat aspek utama dalam game. Pertama, gameplay, yaitu mekanisme permainan yang menarik bagi anak-anak. Kedua, narasi, yaitu Cerita yang memuat nilai-nilai luhur Dayak Salako. Ketiga, karakter, yaitu representasi identitas budaya yang akurat. Keempat, misi, yaitu tugas-tugas dalam game yang berbasis pada kearifan lokal.

Proyek ini tidak hanya berhenti pada tahap pengembangan laboratorium. Dr. Herwulan mengungkapkan bahwa pihaknya telah menentukan dua sekolah sasaran sebagai lokasi uji coba penggunaan edugame Gariskoyak. Hal ini bertujuan untuk melihat efektivitas game tersebut sebagai media pembelajaran di lingkungan sekolah dasar secara nyata.

Melalui kolaborasi antara seniman seperti Bapak Ketua Sanggar Mancar, tokoh adat Bapak Kepalo Binuo Garantunk Sakawokng, dan para pakar pendidikan, diharapkan Gariskoyak menjadi prototipe media pelestarian budaya yang kontekstual dan edukatif.

Sementara itu, Hamidulloh Ibda menjelaskan alur pengembangan merujuk metode Penelitian dan Pengembangan (R&D) dengan model ADDIE melalui lima tahap: Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation

"Metode yang digunakan adalah model ADDIE atau Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation yang memungkinkan proses sistematis, kolaboratif, dan terukur, melibatkan akademisi, guru, praktisi budaya, dan komunitas lokal," kata Ibda.


"Sebenarnya, game ini selain untuk SD kelas tinggi (4, 5, 6) bisa dipakai juga untuk jenjang SMP kelas 1 atau 7, " kata Ibda. 

Keluaran yang ditargetkan meliputi prototipe edugame, panduan penggunaan, laporan evaluasi, sertifikat hak cipta, publikasi ilmiah internasional, buku edukasi berbasis budaya lokal, dokumentasi digital, dan policy brief. 

Secara rinci, Rois Saifuddin Zuhri menjelaskan alur teknis Gariskoyak yang bisa dimainkan oleh anak-anak SD kelas tinggi. Merespon masukan, Rois memastikan bahwa animasi perlu ditambahkan seolah membacakan teks, dan materi yang disajikan akan disesuaikan dengan materi Kak Indung.


Dalam kesempatan itu, turut hadir Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang Ibu F. Felicity Yossy Kartini, S.S., M.A.P., Kapalo Binuo Garantukng Sakawokng / Kepala Suku Dayak Singkawang Marsianus Kodim, S.H., dan maestro Tari Koncong Dayak Bapak Indung, dan puluhan peserta dari pemangku kepentingan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang, tokoh adat Dayak Salako, akademisi, guru seni dan seniman tari. (ah)

close close