Notification

×

Iklan

Iklan

Sejarah Hari Jadi Kabupaten Kediri, dan Monumen Simpang Lima Gumul

Minggu, 08 Maret 2026 | 21:37 WIB Last Updated 2026-03-08T14:37:35Z
Monumen Simpang Lima Gumul jadi ikon Kabupaten Kediri. Foto: Duta.co. 


Kediri, soearamoeria.com - Kabupaten Kediri bukan sekadar wilayah administratif di Jawa Timur; ia adalah saksi bisu kejayaan peradaban Nusantara yang telah berusia lebih dari satu milenium. 


Penetapan Hari Jadi Kabupaten Kediri yang jatuh pada tanggal 25 Maret setiap tahunnya bukanlah angka sembarang, melainkan hasil dari penelitian sejarah dan arkeologi yang panjang.


Penetapan tanggal 25 Maret merujuk pada peristiwa sejarah yang tercatat dalam Prasasti Kwak. Prasasti ini ditemukan di Desa Ngabean, Magelang, namun isinya secara spesifik menyebutkan tentang penatapan desa (simas) di wilayah Kediri pada masa lampau.


Berdasarkan pembacaan para ahli epigrafi, prasasti tersebut berangka tahun 804 Saka atau tepatnya tanggal 25 Maret 804 Masehi. 


Pada masa itu, wilayah Kediri berada di bawah pengaruh kerajaan Mataram Kuno (era Rakai Kayuwangi). 


Penetapan "Sima" atau wilayah perdikan di Desa Kwak menjadi titik tolak administratif yang diakui secara legal-historis sebagai awal mula eksistensi Kediri.


Berbicara sejarah Kediri tidak lepas dari sosok Raja Airlangga. Sebelum membagi kerajaannya menjadi dua (Jenggala dan Panjalu), Kediri merupakan pusat kekuatan ekonomi yang bertumpu pada aliran Sungai Brantas.


Pada tahun 1042, Airlangga membagi wilayahnya untuk menghindari perang saudara. Wilayah Panjalu inilah yang kemudian lebih dikenal sebagai Kerajaan Kadiri dengan ibu kota di Daha.


Di bawah kepemimpinan Raja Jayabaya, Kediri mencapai puncak kejayaan. Bukan hanya militer dan ekonomi, melainkan juga sastra. Ramalan "Jangka Jayabaya" hingga kini masih menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Indonesia.


Sejarah Kediri terus berlanjut melewati masa Singasari, Majapahit, hingga periode Mataram Islam, di mana status Kediri berubah menjadi wilayah kadipaten.


Sebelum tahun 1987, masyarakat Kediri belum memiliki tanggal pasti untuk merayakan hari lahir daerahnya. Melalui prakarsa Pemerintah Kabupaten Kediri dan para sejarawan, dilakukanlah simposium dan pengkajian mendalam terhadap berbagai prasasti.


Para ahli mempertimbangkan beberapa opsi, termasuk tanggal penyerahan kekuasaan di era kolonial. Namun, semangat yang diambil adalah semangat kemandirian dan kedaulatan. 


Itulah sebabnya Prasasti Kwak dipilih, karena ia merepresentasikan akar budaya lokal yang sudah tertata secara sosial-politik jauh sebelum bangsa Barat datang. Melalui Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Kediri Nomor 5 Tahun 1987, tanggal 25 Maret 1804 resmi disepakati sebagai Hari Jadi Kabupaten Kediri.


Di usia yang telah melampaui 1.200 tahun, Kabupaten Kediri terus bertransformasi. Simbol-simbol sejarah seperti Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) yang terinspirasi dari arsitektur Prancis namun tetap memuat relief sejarah lokal, menjadi bukti bahwa Kediri tidak melupakan akarnya di tengah modernisasi.


Setiap tahun, peringatan hari jadi dirayakan dengan berbagai prosesi budaya, seperti: Prosesi Ritual: Pengambilan air suci dari tujuh sumber mata air.


Pentas Seni: Penampilan Tari Kolosal yang menceritakan kejayaan Raja Jayabaya. Pesta Rakyat: Sebagai wujud syukur atas kesuburan tanah lereng Gunung Kelud.


Sejarah Hari Jadi Kabupaten Kediri adalah pengingat bahwa wilayah ini adalah tanah para raja dan pusat ilmu pengetahuan di masa lalu. Dengan memahami bahwa Kediri telah eksis sejak tahun 804 Masehi, generasi muda diharapkan memiliki rasa bangga (pride) dan tanggung jawab untuk menjaga warisan adiluhung ini. (ah)

close close