![]() |
| Ali Achmadi. Foto: Koleksi pribadi. |
Oleh : Ali Achmadi, Praktisi pendidikan, Peminat Masalah Sosial, Tinggal di Pati
Lebaran di kampung kecil seperti Desa Pakis, Kecamatan Tayu, pada tahun 80-an, punya logika sendiri. Logika yang mungkin tidak akan pernah dipahami oleh anak-anak zaman sekarang yang menganggap Lebaran identik dengan mall, kafe, dan selfie di tempat wisata.
Dulu Lebaran dimulai dari suara takbir yang terasa panjang. Seolah-olah langit ikut bergetar.
Pagi hari kami berjalan ke masjid untuk salat Id. Pakai baju baru. Baju yang kadang baru itu artinya hanya satu: baru dibelikan di pasar Tayu seminggu sebelumnya. Modelnya sama semua. Celana bahan agak kaku. Baju koko yang kadang masih bau toko. Tapi rasanya seperti jadi orang kaya.
Setelah salat selesai, kami tidak pulang untuk rebahan. Tidak ada istilah rebahan. Tidak ada juga HP untuk scroll media sosial. Kami punya agenda besar: keliling kampung. Rombongan anak-anak berjalan dari rumah ke rumah. Kadang lima orang. Kadang sepuluh orang. Kadang bisa seperti rombongan kampanye. Tujuannya satu: silaturahmi.
Kami mengetuk pintu. Mengucap salam. Lalu masuk dengan senyum dan pandangan yang sedikit julid. Karena sebenarnya kami juga sedang mengincar sesuatu yang sangat penting di meja tamu. Kue Lebaran.
Di hampir setiap rumah, selalu ada satu benda yang membuat mata kami berbinar. Kaleng biskuit Khong Guan. Kaleng merah dengan gambar keluarga yang sedang makan biskuit di meja makan. Gambar itu sangat meyakinkan. Seolah-olah di dalamnya ada dunia penuh biskuit lezat. Apalagi jika di dalamnya masih ada wafer, yang waktu itu kami menyebutnya marie es.
Bagi anak kampung tahun 80-an, Khong Guan itu seperti simbol kemewahan. Masalahnya, simbol tidak selalu sama dengan isi. Ketika kaleng itu dibuka, sering kali isinya bukan biskuit. Isinya kerupuk tayamum. Kerupuk yang digoreng bukan dengan minyak. Tapi dengan pasir panas.
Entah sejak kapan tradisi itu dimulai. Yang jelas hampir semua rumah melakukan hal yang sama. Kaleng Khong Guan menjadi semacam kamuflase ekonomi keluarga. Kalengnya elit. Isinya kerupuk. Kami tahu itu. Tuan rumah tahu kami tahu. Tapi semua berpura-pura tidak tahu. Dan anehnya kami tetap senang.
Kerupuk tayamum itu tetap kami makan dengan penuh kegembiraan. Karena yang penting sebenarnya bukan biskuitnya. Yang penting adalah petualangan keliling kampungnya.
Namun ada satu wilayah di kampung kami yang terasa seperti negeri lain. Wilayah rumah staf pabrik gula. Di desa kami berdiri pabrik gula peninggalan Belanda. Masih beroperasi waktu itu. Para stafnya hidup lebih makmur dibanding warga kebanyakan.
Jika rombongan kami sampai ke rumah mereka, suasana terasa berbeda. Meja tamu mereka penuh dengan kue-kue pabrikan yang asing bagi lidah anak kampung. Ada wafer. Ada biskuit impor. Ada permen warna-warni yang bahkan kami tidak tahu cara memakannya.
Di rumah mereka juga ada budaya yang membuat kami sedikit bingung. Salah satunya adalah cara makan kacang. Kacang itu tidak diletakkan sembarangan. Kacang dimasukkan dalam stoples kaca. Di sampingnya tersedia lepek kecil dan sendok.
Prosedurnya jelas: Ambil kacang dengan sendok. Tuang ke lepek kecil. Baru dimakan. Sangat rapi. Sangat beradab. Sayangnya, kami tidak pernah membaca SOP itu.
Salah satu teman saya melihat lepek kecil itu. Lalu melihat segelas sirup yang disajikan di meja. Tanpa ragu ia menuang sirup ke lepek itu. Persis seperti kebiasaan orang kampung menuang kopi di lepek agar cepat dingin. Kami semua terdiam. Pemilik rumah juga terdiam.
Barangkali mereka sedang mencoba memahami: ini budaya baru dari mana? Teman saya kemudian meniup-niup sirup itu dengan penuh keyakinan. Seolah-olah memang begitu cara minum sirup di rumah orang kaya.
Begitulah Lebaran anak kampung tahun 80-an. Penuh kesederhanaan. Penuh salah paham budaya. Penuh kegembiraan yang tidak dibuat-buat. Tidak ada yang sibuk memotret makanan. Tidak ada yang sibuk mengunggah status: “Lebaran vibes.” Tidak ada juga yang berkata: “Maaf ya, lagi healing.”
Sekarang Lebaran sedikit berbeda. Anak-anak jarang keliling rumah tetangga. Banyak yang lebih memilih pergi ke tempat wisata. Ke kafe. Atau nongkrong sambil memegang ponsel. Silaturahmi berubah bentuk menjadi story WhatsApp. Ucapan maaf lahir batin berubah menjadi template broadcast.
Kadang saya membayangkan sesuatu. Jika anak-anak zaman sekarang menemukan kaleng Khong Guan yang isinya kerupuk tayamum, mungkin mereka akan protes. Atau membuat konten TikTok atau IG. Minimal buat story WA.
Kami dulu tidak. Kami justru tertawa. Karena kami tahu satu hal sederhana: Lebaran bukan soal isi kalengnya. Tapi soal ramainya langkah kaki anak-anak yang mengetuk pintu rumah tetangga. (*)
