![]() |
| Dialog kebangsaan "Mengenal Linguistik Forensik" Balai Bahasa Jateng pada Kamis 29 Januari 2026. |
Semarang, soearamoeria.com - Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah menggelar Dialog Kebahasaan dengan topik
"Mengenal Linguistik Forensik sebagai Bagian dari Kecakapan Literasi"
di Balairung pada Kamis, 29 Januari 2026.
Dialog Kebahasaan tersebut menghadirkan narasumber Prof. E. Aminudin Aziz,
M.A., Ph.D., pakar Linguistik Forensik dan Pragmatik yang juga Kepala
Perpustakaan Nasional RI.
Diskusi yang dimoderatori Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dwi
Laily Sukmawati, S.Pd.,
M.Hum., tersebut dihadiri sekitar seratus orang yang terdiri atas pegawai Balai
Bahasa Profinsi Jawa Tengah, pegawai magang, dan mahasiswa magang.
Dalam paparannya, Aminudin menjelaskan bahwa ilmu linguistik forensik
membedah data bahasa untuk membuktikan apakah suatu lokusi (perkataan)
seseorang berpotensi melanggar hukum atau tidak.
Selain itu, dia menekankan bahwa pemahaman budaya juga merupakan bagian
penting dalam berkomunikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman.
“Memahami linguistik forensik merupakan bagian dari literasi,” ujar Kepala
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa periode 2020–2025 itu di Balairung pada
Kamis, 29 Januari 2026.
Prof. Amin, sapaan akrab Endang Aminudin Aziz, menjelaskan bahwa masyarakat
yang literat menggunakan keterampilan berpikir aras tinggi untuk mencerna
informasi, baik tekstual maupun nontekstual. Kemampuan berpikir aras tinggi itu
akan berguna untuk meningkatkan kualitas hidup.
“Prinsip tenggang rasa dalam berkomunikasi dapat menghindari perang bahasa,
seperti pencemaran nama baik, hinaan, dan fitnah, yang berpotensi menjadi
masalah hukum,” terangnya.
Sementara itu, dalam pengantar diskusi itu, Dwi Laily Sukmawati mengatakan
bahwa materi linguistik forensik yang disampaikan Aminudin dapat menjadi bekal
para ahli bahasa di Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah dan mahasiswa magang
serta dapat meningkatkan wawasan kebahasaan pegawai secara keseluruhan.
“Selain itu, peserta diskusi mendapatkan bekal kecakapan literasi untuk memilih dan memilah informasi di era digital ini,” ungkap Laily. (ah)
